Thursday, June 28, 2007
Maapin ya kalo nomi judes...
Ditelpon vedri juga. Ya, bukannya ga seneng sih. Tapi saya lagi chatting jadinya saya bingung. Ngetik sambil ngomong. itu bukan keahlian saya. Apalagi, more or less, omongannya sama. Take care dan ini ituuuu...bukannya saya keberatan ditanya2in sih. Tapi saya juga lagi kesel diserbu sama kekawatiran orang2. Huuuu...Mana dia cerita lagi banjir, dll dll dll.. waduh saya bisa apa juga. Saya tau dia lagi banyak masalah, saya juga kepikiran koq. Tapi ya itu...kepala ini penuh bener rasanya sama kekawatiran orang2. Sampe2 saya pengen minta ijin, buat mikirin masalah saya sendiri untuk sementara. Boleh ga? Huuuu Maap ya. Saya tau dia cuma pengen cerita. Saya sadar koq...dia ga mengharpkan saya berbuat apa2. Tapi ga tau deh...PMS kali...tiap kali dia tanya ada cerita apa hari ini. Rasanya pengen saya getok. Simply, karena emang saya ga ada cerita apa2. Kemampuan story telling saya pake mulut berkurang. Lebih pinter ngetik kayanya...
Duuuuuuh, saya lagi berasa jadi devil banget nih. Udah kesempatan terakhir buat ngobrol malah bikin kesan jelek begini. Aduuuuu...maap ya. Tapi saya emang lagi ga mood buat dicerewetin. Hiks...vd ga cerewetin saya sih. Cuma bikin saya pusing dengan memposisikan saya harus mengetik pake satu tangan. huuuuuuuuuuuu maap maap maapp
Wednesday, June 27, 2007
Ich werde daran denken - I will remember this
Memoirs of Universitat Stuttgart
2. Studentheim - Allmandring 10A
3. Laugenbrezeln - my last breakfast in Stuttgart
"A typical Swabian bakery product which is not only sold and eaten in bakeries but also on the streets. The pretzels taste especially good when they are cut open and spread with butter" - http://www.stuttgart-tourist.de/ENG/hotels/gastronomie.htm
4. Unsend postcards - I wrote it in Deutsch. Wew! Ha3...
" And I've been keeping all the letters that I wrote to you. Each one a line or two, I'm fine. Baby, how are you?" - Home - Michael Buble
I will miss it..I will remember it..Die Zeit hier in Stuttgart is sehr herrlich
Tuesday, June 26, 2007
Next Year
Hmm..lagi abis baca blog temen2 di CEE, Zel, Nanc, and Eva. They have very inspiring and good blog ^^ Jadi kepikiran semester depan. Hm, I am thinking not to join NTU CAC Choir again next year, sorry ton! But, hm, I am thinking of doing something else. Hm pengen mendekatkan diri jgua sama temen2. Menghabiskan waktu sama rumet, sama temen sejurusan, sama temen di CSA. Banyak lah. Ga pengen cuma punya satu gerombolan aja. Ga seru..hehe...
Jadi ikut ECA apa ya taun depan? Ada ide?
Habis exam...
Thursday, June 21, 2007
Aku kangen pianoku...hiksuuuuu!
Hm..udah 2 taun ini saya berhenti les piano. Saya kangen..bener2 kangen. Tiap saya pulang rumah juga mainnya ga sering2 karena saya ga tau mau main lagu apa. Rasanya koq ya bosen kalo main lagu itu terus. Mau main lagu lain yang susah2, rasanya sudah hilang skill. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Saya les piano dari umur 3 taun loh. Sebelom bisa baca abc begini, saya duluan bisa baca huruf toge. Hahaha..kangen kangen kangen. Saya mau les piano lagi, saya mau lomba2 piano lagi, konser, kompetisi, ujian,saya mauuuuuuuuuuuuuu biar capek latian, pusing ngapal lagu, tangan ampe pegel, saya ga keberatan..
I miss my piano very much...I miss my skill very much, pengen sih les piano di Singapore. Tapi urusan kuliah ama kegiatan ekskur aja belom bisa bagi waktu dengan baik, apalagi koq ya tambah les piano segala. Ga deh, saya ga suka kerjain sesuatu setengah2 dan cuma jadi sampingan..Abis lulus undergrady, rasanya saya mau lanjutin piano dulu. ha3...ampe puas baru deh kerja dan lanjut S2...hihihihi...ooooo my piano, how i miss youuuuu
Wednesday, June 20, 2007
Jatuh Cinta padaNya..sahabatku...
Saya ketemu ini di blog seseorang. Ada satu postingan dengan judul Jatuh Cinta pada seorang Sahabat. You better not to miss it. Indah banget. Makasih ya buat blogger yang di sana, yang aku tak tau namanya. You have been such a blessing. Saya lagi ngerasa sedikit kesepian dan sendirian. Sejak temen2 main saya memilih untuk lebih sering berbahasa Mandarin ketimbang English. Haiz...again...the same problem I always face when dealing with "them". Hey, I will be able to understand your language someday ya. Promise! Ha3..tapi sekarang..huhuhuhu...sebel sebel sebel! Udah coba bilang dan complain sih, please pakai bahasa yang saya mengerti, tapi kayanya ga dipedulikan. Huhuhu...jadi ya saya mendingan sedikit menarik diri, daripada tambah dongkol. Nah tulisan ini, dan lagu yang tercantum di sana, mengingatkan saya. Dulu lagu ini pernah bikin saya nangis, sekarang sukses bikin saya nangis lagi. Hiks...saya speechless, cuma bisa bilang Makasih Bapa, sahabatKu....
~~~~~
Apa yang kamu lakukan jika kamu sedang jatuh cinta? Kalau saya, jelaslah, berusaha memberi clue pada yang saya jatuhi cinta, buat apa coba jatuh cinta tapi membiarkan target tidak tahu perasaan saya?
Pernah jatuh cinta pada sahabat?
Saya pernah. Sedang jatuh cinta malah. Eh salah, selalu jatuh cinta terus dan terus pada Sahabat saya yang ini. Kadang saya bingung, kenapa selalu Dia dan Dia lagi yang ada dalam pikiran saya, sejak kecil.
Dan sekarang, saya berencana untuk memberitahukan perasaan pada Sahabat saya yang luar biasa ini.
Sial, kok deg-degan ya? Ndeso banget.
Hati saya diliputi keraguan ketika berdiri di depan pintu ruanganNya. Bilang apa enggak?
“Hey.”
Hampir saya terlonjak ketika ternyata Ia membuka pintu ruanganNya, bahkan sebelum saya sempat mengetuk.
Sial. Kalau sudah tertangkap basah seperti ini, masa mau lari? Lebih ndeso lagi nggak sih itu?
“Masuk.” Ia mempersilahkan saya masuk.
Maka saya pun menurut, memasuki ruanganNya. Ia tampak sedang sibuk, entah ngapain. Sering saya bertanya-tanya, apa Ia nggak pernah capek dan bosan dengan kesibukanNya? Tapi yang mengherankannya, Ia selalu punya waktu untuk saya.
“Ada apa?” tanyaNya.
“Sibuk?” saya tidak langsung mengajukan apa yang ingin saya bilang.
“As always.”
“Ada waktu buat saya?”
“Kapan Saya nggak ada waktu buat kamu? Sini.” Ia memberi tanda agar saya mendekat. Maka saya pun mendekat dan duduk di sisiNya.
Tuh kan, apa saya bilang. Dia selalu punya waktu.
“Kenapa?” tanyaNya.
“Nggak apa-apa.” Saya menggeleng.
“Kangen?” tembaknya.
Ditodong seperti itu saya langsung tersipu.
“Nggak usah malu, sama dong, Saya juga kangen..” Ia merengkuh bahu saya dengan lembut. Selama beberapa jenak, saya biarkan diri ini menikmati rangkulanNya.
Dia memang sahabat saya. Yang selalu berhasil membuat saya merasa nyaman di setiap waktu, tanpa perduli saya sedang gembira, sedih, marah, jengkel, susah, senang, bahagia, sudah mandi, belum mandi, sakit, sehat dan seterusnya.
Sebentar.. tadi saya bilang apa? Dia sahabat saya?
“Mmm, mau nanya, nih…” cetus saya tiba-tiba, terlupa sudah niat saya untuk menyatakan perasaan.
“Apa?” Ia melepas rangkulanNya.
“Cuma mau nanya. Apa sih arti sahabat itu?” Tanya saya.
“Yang tidak pernah meninggalkan kamu – selalu ada di sisi kamu, tanpa perduli kamu sedang gembira, sedih, marah, jengkel, susah, senang, bahagia, sudah mandi, belum mandi, sakit, sehat dan seterusnya.” Jelasnya panjang lebar.
“Oh gitu.” Saya mengangguk-angguk. Jelas sudah, Dia memang sahabat saya.
“..oh ya, dan yang mau berkorban untuk kamu…” imbuhnya.
“Gitu ya.”
Saya terdiam, tercenung lama. Sudah jelas, tidak perlu diragukan lagi, Dia adalah sahabat saya. Tapi..
“Kenapa tanya-tanya?” pertanyaannya membuyarkan lamunan saya.
“Nggak apa-apa..” saya menggeleng.
Tapi apakah saya, sahabatNya? Apakah saya selalu ada di sisiNya? Apakah saya mau berkorban sepertiNya? Tanya saya dalam hati.
Ia tersenyum. Saya menduga, ia telah membaca pikiran saya.
“Dasar mind reader.” Omel saya.
“Ya maaf. Kalau Saya mampu, salah Saya? Tapi, iya, kamu sahabat saya..”
Saya cengar-cengir sendiri. Sebal juga ya, punya Sahabat yang bias membaca pikiran. Saya jadi takut berpikir yang enggak-enggak.
“Sudah berapa lama kita bersahabat?” Tanya saya.
“Dua puluh sembilan lebih.. Oktober 2007 nanti 30 tahun.”
“Arrgh.. tolong laaaah!” saya mengerang sebal.
“Kenapa? Nggak suka diingetin soal umur?” ledekNya.
“Nggak apa-apa sih… cuma…”
“Ya,ya ya, kamu sedang dalam fase denial terhadap ketuaanmu.”
“ARGGGH..tegaaaa” saya mengerang lagi.
Ia tertawa geli.
“Kita bersahabat 29 tahun ya?” Tanya saya.
“Iya.”
“Saat saya menjauh dariMu, saat saya tidak mau berkorban sepertiMu, masih dianggap sahabat juga?”
“Masih dong, apa kamu pikir enggak?”
“Kirain..”
Saya terdiam, menatapNya. Lama.
“Thanks ya.” Seru saya pada akhirnya.
“Untuk?”
“Mmm, mau menjadi sahabat sejati, yang mengasihi saya dengan tidak berkesudahan, dengan sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan hal yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak mendendam, bersukacita karena kebenaran. …”
“Kamu nggak usah sok mellow gitu deh.” LedekNya.
“SERIUS! Jangan ngeledek gitu, napa?” protes saya.
“Okaaay..”
“dan, boleh nggak, saya bikin pengakuan…?”
“Terserah.”
“Hm.. tapi jangan diketawain…” seru saya, dan saya pun dapat merasakan bahwa pipi saya bersemu merah.
“Silahkan..”
“Janji?”
“Iya..”
“Bener?”
“Bener.”
“Serius?”
“Lama-lama kamu ngeselin.”
“Iya, iya….”
“Mau bilang apa..”
“Sayaaaa… ehmmm…semakin jatuh cinta padaMu.”
Ia diam, menatap saya lama. Selama beberapa jenak, saya tunggu reaksiNya. Duh, kok kayaknya biasa-biasa aja ya? Padahal saya sudah setengah mati memberanikan diri untuk bilang apa yang baru saya bilang.
“Kok diem? Kok nggak ada reaksi?” Tanya saya pada akhirnya, karena tidak tahan.
“Ya, soalnya Saya udah tau…”
“Oh daaamn! Saya lupa pada kemampuanMu membaca pikiran…” saya menepuk jidat.
Ia tertawa lagi.
"Ehm, tapi apakah saya sudah mencintaiMu dengan benar?" tanya saya lagi setelah tawaNya usai.
Ia tidak menjawab, hanya tersenyum.
"Belum ya? Pasti belum.." imbuh saya dengan sangat yakin.
“Tapi Saya juga jatuh cinta kok pada kamu. Kuanggap kamu adalah biji mataKu yang selalu Kujaga baik-baik…”
Aku tersipu malu.
"Sebentar.." ia berdiri dan mengambil sesuatu, sebuah gitar.
"Mau ngapain?" tanyaku.
"Ngisi bensin.." jawabNya.
Aku terbahak, tapi terus memperhatikanNya. Maka mulailah Ia bernyanyi, dengan sungguh. Mau nangis rasanya mendengar apa yang Ia nyanyikan.
If you feel that you're lonely
It doesn't prove that you're alone
If you feel like nobody wants you
It doesn't mean that no one cares about you
If you feel that you're nothing
before Me you're something beautiful
If you feel that you can't do anything
but with Me you can do lot of things
Listen to the words I say
and I'll always by your side
you mean everything to Me...
and I'll never leave you
'cause I love you so..
When I say I love you
It means I'll give the best for you
When I say I love you
I'd do everything for you
No more fears about the future
and blame for the past
when I say that I love you....
I want you to know that I died for you
I want you to know that I'd give my life for you
when I say that I love you....
Hatiku serasa mau meledak, senang rasanya, Ia mencintaiku, bahkan lebih besar dari rasa cintaku padaNya.
Keterangan :
Judul Lagu : When I say I love you [Franky Sihombing]
~~~~
Why does it feel exciting towards the end?
Hm, jadi inget dulu awal2 pernah ngobrol ama Gun, dia tanya koq gua kayanya menyia2kan banget waktu di sini dengan hanya menghabiskan waktu di kamar dan sekolah aja. Yeah, waktu itu emang gue cuma jalan2 pas weekend, karena cuma itu waktu yang gue punya. Di sini biar kemana2 relatif gampang, tapi waktu yang dibutuhkan juga ga sebentar. Keretanya ga express since itu mahal, so I always take Regional Train yang bisa dibilang lambat. So, kalo tiap harinya kayanya agak susah kalo mau travel ke luar kota. Stuttgart bukan kota yang kecil sih, lumayan besar, tapi bukan berarti banyak nice spot to see juga. Soalnya yaaaa...gimana ya, everything looks the same for me. Bangunannya, orang2nya, makanan2nya. Jadi ya emang, no point aja buat jalan2 dalam kota. Selain Schlossplatz dan Konigstrasse dan sekitarnya, I dun think many thins to see also. Highlights yang ada di webstie tourismnya Stuttgart, sudah saya datangi semua koq. Hahahahaa
Then, begitu udah mau selesai program di Stuttgart, I kinda ga rela buat ninggalin kota ini. Udah apa ya, PeWe kali ya. Udah ngerti trainnya, busnya, dan tempat2nya gimana. Disuruh pindah2 lagi, agak2 males aja buat adapt sama tempat baru. Tapiiiiii yeah, namanya juga travelling. Kalo mau diem di satu tempat ngapain gitu awalnya ke sini, di rumah aje kali ya. Hahahaha....
Btw, hari ini saya kena pemeriksaan tiket kereta. Waktu awal dateng saya mikir, aneh banget orang yang naik kereta koq ga ada yang periksain tiketnya. Kalo gitu ngapain juga saya bayar buat bikin pass nya. Mending langsung naik aja. Eeeee...untungnya saya dikasih pass sama skul kan ya. Dan sampe hari ini udah 6 kali saya mengalami pemeriksaan. Yang meriksa ga pake seragam. Mereka itu "menyamar". Pada pake baju preman yang coWo2, dengan jaket kulit dan sepatu boots. Yang cewe, kadang ada yang keliatan kaya nenek2 ga bertenaga, ada yang keliatan kaya cewe2 Gothik dengan hitam2, ada yang kaya pelajar. Ga keliatan kalo mereka officer, tau2 tereak2 minta kita tunjukin passnya. Kalo ada yang ga punya tiket, bakal dicatet dan dikasih kaya surat tilang gitu. Ha3...kalo 3 kali katanya bisa dideportasi kalo foreigner.
Gunadi, Zelda, Peki udah sampe di Japan. Semoga mereka menikmati their time there, like I do. Mereka agak2 kebalik sih, awalnya exciting banget dengan makanan2nya, Since it is still Asia dan more or less lidahnya cocok lah ya. Hahaha makanan Western di Singapore ato di Indo kan udah disesuaikan ama lidah Asia, makanya ampe sini saya kaget. Kuah pasta ternyata segitu asemnya, dan roti segitu keras dan dinginnya. Ha3...Hope they will have a good time there.
~ 10 hari lagi menuju Europe Trip-Pilgrimage ^^