Wednesday, June 20, 2007

Jatuh Cinta padaNya..sahabatku...

Saya ketemu ini di blog seseorang. Ada satu postingan dengan judul Jatuh Cinta pada seorang Sahabat. You better not to miss it. Indah banget. Makasih ya buat blogger yang di sana, yang aku tak tau namanya. You have been such a blessing. Saya lagi ngerasa sedikit kesepian dan sendirian. Sejak temen2 main saya memilih untuk lebih sering berbahasa Mandarin ketimbang English. Haiz...again...the same problem I always face when dealing with "them". Hey, I will be able to understand your language someday ya. Promise! Ha3..tapi sekarang..huhuhuhu...sebel sebel sebel! Udah coba bilang dan complain sih, please pakai bahasa yang saya mengerti, tapi kayanya ga dipedulikan. Huhuhu...jadi ya saya mendingan sedikit menarik diri, daripada tambah dongkol. Nah tulisan ini, dan lagu yang tercantum di sana, mengingatkan saya. Dulu lagu ini pernah bikin saya nangis, sekarang sukses bikin saya nangis lagi. Hiks...saya speechless, cuma bisa bilang Makasih Bapa, sahabatKu....

~~~~~

Apa yang kamu lakukan jika kamu sedang jatuh cinta? Kalau saya, jelaslah, berusaha memberi clue pada yang saya jatuhi cinta, buat apa coba jatuh cinta tapi membiarkan target tidak tahu perasaan saya?

Pernah jatuh cinta pada sahabat?

Saya pernah. Sedang jatuh cinta malah. Eh salah, selalu jatuh cinta terus dan terus pada Sahabat saya yang ini. Kadang saya bingung, kenapa selalu Dia dan Dia lagi yang ada dalam pikiran saya, sejak kecil.

Dan sekarang, saya berencana untuk memberitahukan perasaan pada Sahabat saya yang luar biasa ini.

Sial, kok deg-degan ya? Ndeso banget.

Hati saya diliputi keraguan ketika berdiri di depan pintu ruanganNya. Bilang apa enggak?

“Hey.”

Hampir saya terlonjak ketika ternyata Ia membuka pintu ruanganNya, bahkan sebelum saya sempat mengetuk.

Sial. Kalau sudah tertangkap basah seperti ini, masa mau lari? Lebih ndeso lagi nggak sih itu?

“Masuk.” Ia mempersilahkan saya masuk.

Maka saya pun menurut, memasuki ruanganNya. Ia tampak sedang sibuk, entah ngapain. Sering saya bertanya-tanya, apa Ia nggak pernah capek dan bosan dengan kesibukanNya? Tapi yang mengherankannya, Ia selalu punya waktu untuk saya.

“Ada apa?” tanyaNya.
“Sibuk?” saya tidak langsung mengajukan apa yang ingin saya bilang.
As always.”
“Ada waktu buat saya?”
“Kapan Saya nggak ada waktu buat kamu? Sini.” Ia memberi tanda agar saya mendekat. Maka saya pun mendekat dan duduk di sisiNya.

Tuh kan, apa saya bilang. Dia selalu punya waktu.

“Kenapa?” tanyaNya.
“Nggak apa-apa.” Saya menggeleng.
“Kangen?” tembaknya.

Ditodong seperti itu saya langsung tersipu.

“Nggak usah malu, sama dong, Saya juga kangen..” Ia merengkuh bahu saya dengan lembut. Selama beberapa jenak, saya biarkan diri ini menikmati rangkulanNya.

Dia memang sahabat saya. Yang selalu berhasil membuat saya merasa nyaman di setiap waktu, tanpa perduli saya sedang gembira, sedih, marah, jengkel, susah, senang, bahagia, sudah mandi, belum mandi, sakit, sehat dan seterusnya.

Sebentar.. tadi saya bilang apa? Dia sahabat saya?

“Mmm, mau nanya, nih…” cetus saya tiba-tiba, terlupa sudah niat saya untuk menyatakan perasaan.
“Apa?” Ia melepas rangkulanNya.
“Cuma mau nanya. Apa sih arti sahabat itu?” Tanya saya.
“Yang tidak pernah meninggalkan kamu – selalu ada di sisi kamu, tanpa perduli kamu sedang gembira, sedih, marah, jengkel, susah, senang, bahagia, sudah mandi, belum mandi, sakit, sehat dan seterusnya.” Jelasnya panjang lebar.
“Oh gitu.” Saya mengangguk-angguk. Jelas sudah, Dia memang sahabat saya.
“..oh ya, dan yang mau berkorban untuk kamu…” imbuhnya.
“Gitu ya.”

Saya terdiam, tercenung lama. Sudah jelas, tidak perlu diragukan lagi, Dia adalah sahabat saya. Tapi..

“Kenapa tanya-tanya?” pertanyaannya membuyarkan lamunan saya.
“Nggak apa-apa..” saya menggeleng.

Tapi apakah saya, sahabatNya? Apakah saya selalu ada di sisiNya? Apakah saya mau berkorban sepertiNya? Tanya saya dalam hati.

Ia tersenyum. Saya menduga, ia telah membaca pikiran saya.

“Dasar mind reader.” Omel saya.
“Ya maaf. Kalau Saya mampu, salah Saya? Tapi, iya, kamu sahabat saya..”

Saya cengar-cengir sendiri. Sebal juga ya, punya Sahabat yang bias membaca pikiran. Saya jadi takut berpikir yang enggak-enggak.

“Sudah berapa lama kita bersahabat?” Tanya saya.
“Dua puluh sembilan lebih.. Oktober 2007 nanti 30 tahun.”
“Arrgh.. tolong laaaah!” saya mengerang sebal.
“Kenapa? Nggak suka diingetin soal umur?” ledekNya.
“Nggak apa-apa sih… cuma…”
“Ya,ya ya, kamu sedang dalam fase denial terhadap ketuaanmu.”
“ARGGGH..tegaaaa” saya mengerang lagi.

Ia tertawa geli.

“Kita bersahabat 29 tahun ya?” Tanya saya.
“Iya.”
“Saat saya menjauh dariMu, saat saya tidak mau berkorban sepertiMu, masih dianggap sahabat juga?”
“Masih dong, apa kamu pikir enggak?”
“Kirain..”

Saya terdiam, menatapNya. Lama.

Thanks ya.” Seru saya pada akhirnya.
“Untuk?”
“Mmm, mau menjadi sahabat sejati, yang mengasihi saya dengan tidak berkesudahan, dengan sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan hal yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak mendendam, bersukacita karena kebenaran. …”
“Kamu nggak usah sok mellow gitu deh.” LedekNya.
“SERIUS! Jangan ngeledek gitu, napa?” protes saya.
“Okaaay..”
“dan, boleh nggak, saya bikin pengakuan…?”
“Terserah.”
“Hm.. tapi jangan diketawain…” seru saya, dan saya pun dapat merasakan bahwa pipi saya bersemu merah.
“Silahkan..”
“Janji?”
“Iya..”
“Bener?”
“Bener.”
“Serius?”
“Lama-lama kamu ngeselin.”
“Iya, iya….”
“Mau bilang apa..”
“Sayaaaa… ehmmm…semakin jatuh cinta padaMu.”

Ia diam, menatap saya lama. Selama beberapa jenak, saya tunggu reaksiNya. Duh, kok kayaknya biasa-biasa aja ya? Padahal saya sudah setengah mati memberanikan diri untuk bilang apa yang baru saya bilang.

“Kok diem? Kok nggak ada reaksi?” Tanya saya pada akhirnya, karena tidak tahan.
“Ya, soalnya Saya udah tau…”
“Oh daaamn! Saya lupa pada kemampuanMu membaca pikiran…” saya menepuk jidat.

Ia tertawa lagi.

"Ehm, tapi apakah saya sudah mencintaiMu dengan benar?" tanya saya lagi setelah tawaNya usai.

Ia tidak menjawab, hanya tersenyum.

"Belum ya? Pasti belum.." imbuh saya dengan sangat yakin.
“Tapi Saya juga jatuh cinta kok pada kamu. Kuanggap kamu adalah biji mataKu yang selalu Kujaga baik-baik…”

Aku tersipu malu.

"Sebentar.." ia berdiri dan mengambil sesuatu, sebuah gitar.
"Mau ngapain?" tanyaku.
"Ngisi bensin.." jawabNya.

Aku terbahak, tapi terus memperhatikanNya. Maka mulailah Ia bernyanyi, dengan sungguh. Mau nangis rasanya mendengar apa yang Ia nyanyikan.

If you feel that you're lonely
It doesn't prove that you're alone
If you feel like nobody wants you
It doesn't mean that no one cares about you


If you feel that you're nothing
before Me you're something beautiful
If you feel that you can't do anything
but with Me you can do lot of things


Listen to the words I say
and I'll always by your side
you mean everything to Me...
and I'll never leave you
'cause I love you so..


When I say I love you
It means I'll give the best for you
When I say I love you
I'd do everything for you
No more fears about the future
and blame for the past
when I say that I love you....


I want you to know that I died for you
I want you to know that I'd give my life for you
when I say that I love you....


Hatiku serasa mau meledak, senang rasanya, Ia mencintaiku, bahkan lebih besar dari rasa cintaku padaNya.

Keterangan :
Judul Lagu : When I say I love you [Franky Sihombing]
~~~~

No comments: